MAKNA PAMELEON BOLON
Mengucap syukur Kepada MULAJADI NABOLON atas anugrah sepenjang tahun yang diberikan.
Setahun sudah bekerja, bulan “sipahatolu” sudah tiba, hasil sudah didepan mata, padi menguning memberikan harapan baru. Syukur kepada Pencipta, Dia yang memberi, Dia alamat sembah, kepadaNya hasil ini lebih dulu dipersembahkan.
Bulir padi matang, bernas dipilih, dipetik dengan tangan. Sebagian disimpan untuk bekal benih untuk musim tanam mendatang, sebagian diolah menjadi “itak gurgur”. Inilah “matumona” memetik perdana hasil panen untuk persembahan kepada Pencipta dan persiapan benih.
Memasuki bulan “sipahaopat” semua penduduk sudah selesai memetik hasil panen. Persembahan akbar disiapkan. Raja menetapkan hari bulan mendatang, bulan purnama, samisara purasa, bulan “sipahalima”. “Horbo sitingko tanduk siopat pusoran” dipersiapkan. Kerbau pilihan memiliki empat pusar dan tanduk melingkar, gemuk dan tegar. Hasil panen masyarakat dipilih yang terbaik, diolah menjadi “pelean” persembahan kepada Mulajadi Nabolon bersama kerbau pilihan.
Uluan Bolon pilihan para Raja Bius “martonggo” kepada Mulajadi Nabolon menghaturkan sembah, mengucap syukur atas anugrah sepenjang tahun yang diberikan. Manifestasinya melalui sikap tunduk sujudnya semua umat menghantar sajian debata ditata diatas “Langgatan” altar persembahan. Sikap individu ditunjukkan dengan tarian yang diiringi “ogung sada bangunan”, irama musik tradisi menghantar doa persembahan.
Batak diintervensi. Menghaturkan sembah menurut tradisi batak pun dilarang. Membunyikan gendang dianggap haram. Menyembah Mulajadi Nabolon dituding penyembahan berhala. Mereka dipermalukan karena tidak mengenal jalan kebenaran. Sebagian besar dari mereka berangsek meninggalkan tradisi upacara persembahan karena dinilai tidak memiliki pengharapan.
Ada yang menolak, berusaha bertahan. Sikap Hamalimon Batak harus dijalankan. Mereka memiliki pengharapan, karena sudah dijalankan turun temurun bersamaan dengan pelembagaan hukum dan aturan kemasyarakatan. Mereka berkumpul-mengkristal-terdiskriminasi, termasuk dari mereka yang dulunya bersama-sama melakoni.
Inilah kemudian yang dikenal dengan Ugamo Malim, sebutan kepada mereka Parmalim. Bertahan melakukan persembahan kepada Mulajadi Nabolon sesuai tradisi yang sudah dijalankan para leluhur.
Saat ini orang Batak melihatnya seperti sesuatu yang aneh, kadang disebut tradisi Parmalim karena mereka sudah sejak lama meninggalkannya walau itu dulunya tradisi Batak. Mereka sudah menjadi bagian lain dari Batak, sehingga kegiatan yang dilakukan Parmalim dinilai internal dan mereka berada pada bagian luar. Inilah dulunya yang dituding upacara pemujaan berhala. Dan ini pula yang melekat di sanubari orang batak menyebut para leluhurnya “sepele begu” karena tidak seperti “kekinian” mereka. Mereka melihatnya hanya sebagai tontonan, kegiatan budaya yang menghibur, obyek wisata.
Kekakuaan para “penuding” tidak pernah disikapi Parmalim dengan cara bodoh. Selama rohaninya terpenuhi, terus dilakoni walau diiringi caci-maki. Ada pengharapan Parmalim dengan melakukan persembahan kepada Mulajadi Nabolon dan mohon pengampunan atas semua kesalahan yang menjadi dosa selama satu tahun berjalan. Dipanjatkan doa permohonan untuk satu tahun kedepan diberikan rejeki bertambah, kesehatan, perumbuhan, kebijaksanaan dan kekuatan.
Langganan:
Postingan (Atom)