MAKNA MANGAN NAPAET
Tuesday, 19 February 2008

Napaet sebagai media pendekatan segala rasa yang ada.

Orang Batak sejak dulu sudah memiliki hitungan hari dan bulan. Hari dihitung setiap bulan sebanyak 29 dan 30 hari. Masing-masing hari beda sebutannya dan berdasarkan itu mereka tau hari keberapa dan bulan ke berapa. Mereka mengamati hari-hari itu dengan melihat tanda-tanda di “parlangitan” siklus bulan dan bintang.

Hari-hari itu disebut :
1. Artia 11. Muda ni mangadop 21. Samisara Moraturun
2. Suma 12. Boraspati ni Tangkup 22. Artia ni Angga
3. Anggara 13. Singkora Purasa 23. Suma ni Mate
4. Muda 14. Samisara Purasa 24. Anggara ni Begu
5. Boraspati 15. Tula 25. Muda ni Mate
6. Singkora 16. Suma ni Holom 26. Boraspati Nagok
7. Samisara 17. Anggara ni Holom 27. Singkora Duduk
8. Artia ni Aek 18. Muda ni Holom 28. Samisara Bulan Mate
9. Suma ni Mangadop 19. Boraspati ni Holom 29. Hurung
10.Anggara Sampulu 20. Singkora Moraturun 30. Ringkar

Bulan dinamai dengan :
1. Sipahasada 5. Sipahalima 9. Sipahasia
2. Sipahadua 6. Sipahaonom 10.Sipahasampulu
3. Sipahatolu 7. Sipahapitu 11.Li
4. Sipahaopat 8. Sipahaualu 12.Hurung

Bulan terakhir setiap tahun dinamai Hurung (kurung) dan hari ke 29 setiap bulan juga disebut Hurung. Setiap hari “hurung” setiap bulannya biasanya dihindari kegiatan yang diharapkan akan berkembang, misalnya menjemput ternak untuk peliharaan, tabur benih, melakukan acara pengesahan perkawinan dan sebagainya. Mereka biasanya melakukan pendekatan terhadap Mulajadi Nabolon dan pensucian diri setiap bulannya pada hari “hurung”. Keesokan harinya, “ringkar” artinya keluar dari keterkungkungan.

Pada bulan yang sama “hurung” dan pada hari yang sama “hurung” setiap akhir tahun mendapat perhatian yang lebih khusus. Umumnya kegiatan secara total dihentikan. Tidak melakukan tanam benih, tidak melakukan transaksi dagang, tidak saling memberi dan menerima sesuatu barang untuk usaha pengembangan. Tidak melakukan “parhataan” pembahasan atas semua aspek kehidupan bersama. Mereka melakukan kegiatan sendiri, menyendiri dalam kegiatan satu keluarga. Mereka membatasi diri dari hubungan duniawi. Hal ini disebut “marsolam diri”, membatasi diri dari hal keduniaan.

Aktifitas ini biasanya dilakoni mereka yang teguh berdiri dalam paham “hamalimon” untuk mengamalkan ketaatannya kepada Mulajadi Nabolon yang mereka percaya “sundung ni hangoluan” ujung dari tujuan kehidupan. Arti kehidupan digambarkan dengan “hariara sundung dilangit” yang diukirkan pada sisi rumah batak, yang mengartikan pohon kehidupan yang tajuknya semakin mengerucut kearah “atas” yang diartikan dimana Mulajadi Nabolon bersinggasana.

Saat penganut paham hadebataon “hamalimon” terlindas oleh paham yang baru, mereka mengartikannya sebagai pahit getir pejuang, penegak hamalimon batak yang dianugerahkan Mulajadi Nabolon di tanah batak. Para Penegak hamalimon yang disebut “Malim” seperti Raja Uti, Simarimbulubosi, dan Sisingamangaraja cukup mengalami pahit getir kehidupan sehingga mereka disebut “Nasiak Bagi.”

Setelah penganut paham hamalimon batak yang mengkristal dalam penuntunan Raja Mulia Naipospos, mereka memanfaatkan hari “hurung” pada bulan “hurung” untuk memperingati “kegetiran”, kepahitan hidup yang dialami para “Malim”. Momen ini juga dimanfaatkan untuk mengenang “kegetiran” para pengikut para Malim dan pengalaman sendiri selama tahun berjalan.

Para penganut Hamalimon Batak mengkristal dalam sebutan “Parmalim” sejak tahun 1910 keatas. Parmalim melambangkan peringatan “kepahitan” yang dialami para Malim dengan “Napaet”. Napaet merupakan gabungan dari tumbuhan yang mengandung pahit, asam, pedas, kelat dan asin.

Napaet juga melambangkan penderitaan para pengikut malim itu, yaitu yang menyebut dirinya saat ini Parmalim. Napaet memiliki pemaknaan yang lebih luas lagi. Napaet yang dialami para Malim adalah karena upaya mereka menegakkan hukum kebenaran bagi bangso Batak. Sementara napaet yang dialami oleh pengikutnya dibagi dalam dua bagian pengertian. Pertama , karena kesetiaannya mengikuti ajaran Malim sehingga sering mengalami penindasan oleh orang-orang disekitarnya, terfitnah dan dituding “sesat”. Kedua, adalah akibat dari kesalahannya sendiri terhadap hukum yang telah ditegakkan para Malim, yang melakukan tindakan yang dapat merusak keutuhan Hamalimon dan berdampak kepada kerusakan tatanan kemanusiaan. Ini disebut “dosa”.

Perbuatan dosa itu yang disadari terakumulasi selama satu tahun berjalan, direnungi dan dimohon pengampunan dalam bulan hurung hari hurung. Napaet sebagai media pendekatan segala rasa yang ada pada indera manusia, dengan tidak mengkonsumsi makanan keseharian selama 24 jam akan mengantarkannya ke ruang yang lebih “rohani” dan khusuk mohon pengampunan. Inilah puncak pengajaran “marsolam diri”, membatasi diri dari tuntutan duniawi.

Keesokan harinya “ringkar” (rungkar) keluar dari perenungan penyesalan menjadi penerimaan anugerah pengampunan. Pada hari ini, Parmalim “mangan natonggi”. Tidak serta merta dilambangkan oleh makanan yang manis-manis, tapi menikmati apa yang menjadi konsumsi keseharian. Makan bersama sesama komunitas dan mengekspresikan kebahagiaan.

Ringkar adalah hari terakhir setiap tahun yang diperingati sebagai hari kebebasan setelah melakukan perenungan dan pengampunan yang dalam. Keesokan harinya adalah Artia bulan Sipahasada. Hari pertama tahun yang baru. Tidak ada kelajiman merayakan tahun baru bagi masyarakat Batak tempo dulu. Mereka hanya mengenang kelahiran Simarimbulubosi, “manusia dewa” penegak hukum yang diakui seantero tanah batak. Beliau penegak hak azasi manusia dan penghargaan derajat perempuan. Beliau mengaturkan pembuatan hukum adat dan menegakkan langsung di masyarakat. Beliau didewakan orang-orang yang merasa terbebas dari penindasan dan orang hina yang terangkat derajatnya. Beliau menyiratkan patik “unang, tongka dang jadi”.

Simarimbulubosi memiliki kekuatan dan anugerah “keilahian” dari Mulajadi Nabolon dan disebut Tuhan yang diutus. Beliau lahir pada hari Suma dan “diharoani” di Anggara bulan Sipahasada.

Raja Manghuntal Singamangaraja I juga lahir pada hari Suma. Sehingga pada hari Suma dan Anggara, Parmalim memperingati kelahiran para Malim yang diberkati Mulajadi Nabolon itu. Berkaitan dengan kegiatan ritual pembersihan diri dan rohani yang sudah dilakukan pada hari hurung akhir tahun, dan kebebasan “rungkar” pada hari “ringkar”. Dimulailah tahun yang baru dengan menyambut roh (tondi nabadia) yang diutus Mulajadi Nabolon yang disebut “tondi parorot, tondi pangajari, tondi panghophop” melalui para Malim, Raja Uti, Simarimbulubosi, Sisingamangaraja dan Raja Nasiakbagi.

Hari Artia bulan Sipahasada dianggap sebagai “Robu”. Robu adalah hari sela diantara dua kegiatan yang berbeda. Robu dapat juga diartikan hari tenggang setelah melakukan kegiatan tertentu. Jadi jelas, saat ini Parmalim melakukan kegiatan pada Sipahasada bukan merayakan tahun baru, tapi merayakan kelahiran para Malim dan menyambut pembaharuan setelah di akhir tahun melakukan ritual pengampunan dosa.

Hari Raya Batak akan kami jelaskan pada tulisan berikutnya PAMELEON BOLON.

0 komentar:

Posting Komentar